Mar 25, 2014

Tak Sekedar Mencari Keuntungan, tapi Memberi Manfaat Bagi Orang Lain

Dulu, sebelum pergantian millennium, saya pernah bekerja di perusahaan internet provider, alias penyedia jasa jaringan internet. Waktu itu internet benar-benar sesuatu yang masih fresh. Belum banyak orang yang menggunakan jaringan internet langsung kerumahnya, makanya warnet alias warung internet menjadi lading usaha yang menguntungkan saat itu. Jadi kantor tempat saya bekerja pun ikut membuka warnet di lantai paling bawah kantor.

Suatu saat saya mendengar boss pemilik perusahaan memberi arahan pada petugas penjaga warnet agar disiplin menjaga warnet, tepat waktu dan melayani dengan baik. Ia menceritakan bahwa ada seorang pelanggan, seorang ibu yang suaminya bekerja di Amerika, suatu hari kesulitan menggunakan internet di warnet kantor kami karena masih belum buka, padahal di jam tersebut biasanya warnet sudah buka.

Si ibu menggunakan internet untuk ber-ICQ dengan suaminya di Amerika pada jam-jam tertentu saat keduanya memungkinkan. Jadi boss saya menjelaskan, usaha warung internet yang dijalankannya tidak semata-mata untuk mencari keuntungan, tapi harus memberi manfaat pada penggunanya.

Mengutip sorang motivator terkenal, konon, kalau usaha kita ditujukan untuk memberi manfaat bagi orang-orang, maka imbalan yang akan diterima pun akan dahsyat nantinya. Tapi seringkali justru kita menemui orang yang membuka usaha dengan cara merugikan orang lain, mencari untung sebanyak-banyaknya tanpa peduli untuk memberikan servis terbaik pada pelanggan.

Saya pernah makan di warung tenda pecel lele, penjualnya seorang anak muda melayani dengan santai sambil memainkan handphone. Ia tampak asuh-tak acuh pada saya seorang pembeli yang tengah kelaparan. Kemudian datang dua orang wanita memesan makanan. Mungkin melihat cara si penjual melayani dengan tidak serius, si wanita yang sepertinya kenal dengan si penjual, melontarkan komentar pada si penjual, dengan mengatai si pemuda sombong mentang-mentang sekarang buka usaha pecel lele, padahal dulunya ia adalah tukang cuci motor.

Tak jauh dari tempat si penjual pecel lele, ada penjual nasi padang. Di lain kesempatan saya pernah belanja nasi di sana untuk dibawa pulang, dan si penjual memaksa saya membeli dua buah perkedel kentang yang tersisa, padahal saya hanya ingin membeli satu buah saja. Setelah saya sampai rumah, ternyata perkedel yang saya beli sudah basi. Tak ayal keluar umpatan dari mulut saya mendapati kenyataan itu.

 Beberapa waktu berlalu, saat saya lewat di depan penjual nasi padang dan pecel lele yang saya ceritakan di atas, mereka ternyata sudah tidak ada lagi. Entahlah, mungkin pindah tempat atau bangkrut. Hanya saja, melihat cara mereka melayani konsumen, saya bisa menebak akhir kisah usaha mereka.
Reactions:
Categories:

0 comments:

Post a Comment