Mar 26, 2014

Belanja Anyone? ( Part 6 ) Belanja konvensional, harus jago nawar dan tau harga

Ini pengalaman saya yang sudah lama sebetulnya, tapi tetap terngiang-ngiang sampai sekarang karena seperti jadi patokan dalam berbelanja.

Waktu itu saya membeli selembar stiker yang biasa digunakan untuk membentuk huruf-huruf. Selembarnya kurang lebih seharga lima ribu rupiah, maklum sudah lama banget, kalau sekarang pasti sudah berlipat-lipat harganya. Setelah beberapa hari stiker tersebut akhirnya habis, sedangkan saya masih membutuhkannya.

Akhirnya saya kembali ke toko kertas tempat saya membeli stiker tersebut. Sayangnya ternyata di toko itu stikernya habis, jadi saya harus mencari tempat alternatif yang menjual stiker yang sama. Akhirnya saya menemukan stiker tersebut di pinggiran jalan, dijual secara emperan. Penjualnya seorang pemuda yang sedang leha-leha. Lalu saya tanyakan berapa harga stiker tersebut selembarnya. Si abang bilang, harganya dua belas ribu rupiah. lebih dari dua kali lipat harga di toko kertas. Di toko kertas, harga yang ditawarkan relatif sudah fix, alias harga pas.

Kalaupun bisa ditawar pasti gak akan bisa turun jauh dari harga pembukanya. Dan yang melayani pun adalah si penjaga toko yang hanya karyawan, tak punya kewenangan untuk memainkan harga. Sementara yang di pinggir jalan, penjualnya adalah yang menjajakannya juga. Ia punya kuasa penuh untuk menentukan harga.

Dari harga 12.000 rupiah yang ditawarkan, kalau saya tawar setengahnya saja, 6.000 rupiah, harganya masih lebih tinggi dari harga di toko. Ya, akhirnya saya tawar seharga itu saja. Si penjual tentunya mengharap lebih. Lalu saya berakting mau pergi, pura-pura tak butuh. Si abang menahan, dan membolehkan saya membawanya dengan harga Rp. 6.000.

Jadi sekarang kalau beli sesuatu, saya lihat-lihat dahulu, yang menjual apakah sekaligus pemilik barangnya juga.
Reactions:
Categories:

0 comments:

Post a Comment